Teriakan
histeris Pricilia membuat para pembantunya berlarian kekamarnya. Pricilia sudah
meringkuk dipojokan dan melipat lututnya. Dua pembantunya membantunya bangkit
dan merebahkannya di kasur empuknya. Tubuh gemetar dan pucat membuat Pricilia
yang sering terlihat menyebalkan. Berubah menjadi penurut dan pendiam. Seorang
pelayan kembali datang dan membawakannya air putih.
Setelah merasa tenang, dengan
ditemani satu pembantunya yang berdiri didepan pintu Pricilia kembali kekamar
mandi. Namun niatnya untuk berendam hilang. Ia tak berniat berlama-lama dikamar
mandi setelah melihat coretan sialan di kaca besar tadi. Pricilia hanya
menyiram tubuhnya dan menghilangkan rasa letih. Setelah kembali memakai kimono.
Dengan bantuan pelayannya tadi Pricilia memakai baju. Setelah kepalanya terasa
tenang. Ia kembali mengambil ponsel dan menghubungin kedua sahabatnya. Si
pelayan masih tetap disampingnya, Pricilia sama sekali tak mengizinkan pelayan
itu jauh-jauh darinya. Karena kejadian tadi.
Bianca mengangkat telepon, gadis itu
baru pulang setelah mendapatkan telepon dari Stiven pacar Vanda. Katanya
semalam sebelum kecelakan itu, ada orang asing yang menelepon. Dan karena takut
Vanda menelepon Stiven karena gemetar tubuhnya tidak bisa hilang.
“Terus
Vanda bilang nggak orang itu ngomong apa?” Tanya Pricilia penasaran.
“Hmm…
apa ya? Kalo gak salah dia ngomong, kematian lo bakal datang… gitu deh yang
dikasih tau si Stiven.” Jawaban Bianca membuat bul kudu Pricilia merinding.
Dengan cepat ia menyuruh Bianca datang kerumahnya dan kembali berusaha
menghubungi Cantika.
“Sorry,
saat ini gue lagi sibuk. Jadi kalo ada perlu hubungin gue besok aja ya.” Suara
itu berkali-kali terdengar. Pricilia benar-benar muak dan melempar handphonenya
kekasur.
Suara mobil Bianca berhenti didepan
halaman luas dirumah Pricilia. Para pelayan yang sudah mengenal sahabat
Pricilia ini, tak melarang saat Bianca langsung berlari kekamar Pricilia.
“Ada
apa sih? Kok suara lo panik banget.” Tanya Bianca. Seorang pelayan yang
menemani Pricilia, segera bangkit dan keluar.
“Tadi
ada hal yang nyeremin banget!” jawab Pricilia, dengan wajah yang masih terlihat
pucat.
“Tadi
pas gue mau mandi, tau-tau di kamar mandi ada tulisan.’ SD CAHAYA MUSTIKA,
selamat datang. Datang tulisannya itu pake darah!” cerita Pricilia menularkan
rasa ngeri ke tubuh Bianca.
“Apa
ini ada hubungannya sama kejadian Vanda?” Tanya Bianca. Pricilia pun mengangkat
bahu yang terasa lemas.
“Mungkin.
Gue takut banget ca. mana Cantika gak bisa dihubungin lagi.” Pricilia kembali
menghubung Cantika dan masih sama. Nomornya tidak aktif.
Malam terlah larut Bianca memilih
menginap dirumah Pricilia. Selain karena malas menyetir malam-malam. Cerita
Pricilia membuatnya ngeri. Ia takut orang gila itu masih ada dibawah dan
membunuhnya dijalan.
€€€
Pagi berganti, untuk menghilangkan kejadian
mengerikan kemarin. Bianca dan Pricilia pergi ke butik langganan mereka bersama
Cantika dan Gladis. Para karyawan yang sudah mengenali wajah-wajah itu segera
mempersilahkan mereka masuk dan memilah-milih gaun. Gaun yang mereka incar saat
ini berwarna merah. Namun karena taka da model yang sesuai untuk Pricilia,
gadis itu memilih untuk membuat desain baru.
Suara handphone di tas Gladis
membuat semua mata tertuju padanya. Glad pun dengan wajah sedikit malu
mengangkat telepon dan menjauh.
“Iya
Rob. Aku? Lagi di butiknya Pricilia sama temen-temen. Katanya buat beli gaun
untuk party reunian SD kalian katanya. Apa? kamu mau nyusul? Hmmm… gimana ya?”
Gladis terlihat bingung.
“Dateng
aja Rob.” Teriakan Pricilia membuat Gladis berbalik dan menatapnya. Dengan
sedikit malu ia pun menyuruh Roby datang.
Beberapa menit bersilang, Roby pun
datang dengan Hyundai Grand Avega berhenti disamping Honda City Pricilia. Tubuh
tinggi tegap itu tersenyum dan menyapa empat gadis dihadapannya. Namun saat
berdiri disamping Gladis, senyumnya berubah menjadi senyum yang mempesona.
“Kamu
udah pilih gaun?” Tanya Roby, Gladis pun menggeleng.
“Aku
takut, akukan bukan alumni SD kalian.” Jawab Gladis.
“Au
tuh Rob, dari tadi udah gue bilangin. Tetep aja dia gak mau ikut.” Perkataan Pricilia
membuat mata Roby menatap lembut gadis itu.
“Ikut
ya, sebagai pendamping aku.” Ajakkan Roby mau tak mau membuat wajah Gladis
merona. Pricilia dan teman-teman pun hanya bisa tersenyum saat melihat tingkah
kedua insan itu.
Roby memang borjuis, namun ia nggak
pernah pake uangnya untuk memangsa gadis. Ia hanya menggunakan uangnya untuk
style dan kejenuhan dalam kehidupannya. Dan Pricilia pun sangat salut dengan
prinsip Roby. Love isn’t money.
€€€
Pesta reunian dimulai, Vi, Cantika
dan Bianca sudah datang ke pesta. Sedangkan Gladis datang bersama Roby yang
langsung menjemputnya dirumah Gladis. Aula di hotel indah itu di penuhi
wajah-wajah yang masih terlihat akrab di mata Pricilia dan teman-teman. Setelah
menemui Mitha mereka pun berbaur dengan yang lain.
Benar yang diduga Roby, bukan hanya
dirinya. Banyak yang bawa pasangan. Namun Roby cukup bangga menggandeng Gladis
gadis manis yang sudah ia taksir dari pertama kali melihatnya bersama Pricilia
cs.
Pricilia merasa berbaur dengan teman-temannya,
berbincang dengan Anthony yang baru kembali dari Paris. Mengingat masa yang
menyenangkan bersama Dewi. Banyak teman yang membuat Pricilia kembali mengenang
masalalu. Kenakalan, keusilan yang sering mereka lakukan.
“Iya,
gue masih inget tuh! Tapi gue lupa siapa tuh cowok. Salah dia juga, udah kelas
lima bawa bekel ke kelas.” Balas Pricilia dengan tawa yang terlepaskan.
Hingga beberapa waktu terlewatkan,
alumni SD Cahaya Mustika terkejut saat lampu di aula itu mati. Beberapa orang
menjadi panik, terutama para cewek. Roby terpaksa melangkah ke pintu keluar dan
meninggalkan Gladis yang sepertinya gemetar. Suara pecahan kaca semakin membuat suasana
semakin mecekam.
“AAAKKKKHHH…”
teriakan Gladis yang menggelegar membuat Pricilia, Roby dan yang lain panik.
“Glad,
lo kenapa? Glad… please jawab gue.” Teriak Pricilia yang membeku tak bisa
bergerak. Ketakutannya akan kegelapan membuatnya terdiam. Tak ada jawaban sama
sekali dari Gladis. Kepanikan menjalar kesemua penghuni aula itu.
Lampu kembali nyala. Pricilia
langsung berlari mencari Gladis yang sudah di kerumuni para penghuni aula,
membuat Pricilia dan roby memaksa masuk. Pricilia hanya bisa menutup mulutnya
dan airmatanya mengalir deras.
Darah mengalir deras dari perut
Gladis yang sudah di bopong Roby. Kengerian kembali mengalir di tubuh Pricilia.
Ketakutan akan ancaman itu kembali menyeruak. Dan membuatnya menangis tak
tertahan.
€€€
Pricilia kembali lega karena tak ada
yang fatal di tubuh Gladis yang masih tergolek lemah dirumah sakit. Ia kembali
pulang kerumah untuk mengambil beberapa pakaian, namun wajah yang tak asing
baginya, namun cukup membuatnya merasa gerah! Angelina. Datang kerumahnya
dengan wajah serius.
“Gue
cuman mau tanya gimana kronologis kecelekaan Vanda!” jawabnya dengan nada ketus
yang ditahan.
“Emang
perlu gue kasih tau ke lo?” jawab Pricilia tak kalah ketus. Angel, menghela
nafas dan menghembuskannya dengan rasa kesal.
“Lo
bener-bener gak pernah mikir ya?” cela Angel.
“Hei!
Itu fitnah yang kejam. Kalo gue gak pernah mikir, gimana bisa gue ngalahin
nilai-nilai lo.” Balasnya dengan geram.
“Ck!
Gue emang ngomong sama orang yang salah!” Angel pun bangkit dengan geram dan
melangkah pergi.
Saat mengantar Angel keluar
rumahnya. Dari kejauhan Vi kembali melihat cowok berbaju hitam sedang keluar
dari rumahnya. Saat memasuki mobil Honda jazz miliknya, Angel kembali berbalik
dan menatap Pricilia.
“Asal
lo tau! Gue dateng kesini cuman untuk ngasih peringatan, nyawa kita, semua
alumni SD Cahaya Mustika dalam bahaya! Tadinya gue fikir kita bisa bicara
baik-baik. Ternyata… gak ada guna!” baru saja Angel akan masuk kedalam
mobilnya, sadar akan ancaman itu. Pricilia pun menghentikan Angel dan kembali
mengajaknya masuk kedalam.
Walau rasa sebal pada mantan
sahabatnya ini, Pricilia harus menghilangkannya sesaat. Karena ia tahu, hanya
angellah sahabat yang paling enak diajak bicara serius.
“Lo
masih nyimpen buku tahunan SD kita?” Tanyanya, Pricilia pun segera memanggil
pembantunya untuk mengambil buku itu digudang.
Saat buku tahunan sudah ada didepan
mata Angel langsung membolak-balik buku itu dan menyalinnya disatu kertas.
Pricilia hanya terdiam dan menatap Angel dengan kening mengkerut.
“Ok,
lo lihat ini!” Pricilia mengambil kertas yang diberikan Angel dan membacanya.
Nama-nama yang tak terlalu Pricilia kenal. Nama-nama yang nggak pernah ada
diotaknya dan mungkin tak pernah diperdulikannya.
“Maksudnya
apa nih?” tanya Pricilia bingung. Angel pun mengambil kertas itu dan menaruhnya
diatas meja.
“Kemaren
yang dateng cuman dua puluh lima orang. Sedangkan murid yang ada dibuku tahunan
hampir tiga puluh orang.” Jawab Angel. Kembali ia membuka buku tahunan dan
menatap Pricilia.
“Apa
lo nggak fikir kalo yang ngerjain ini semua anak alumni kita juga?” Pertanyaan Angel
membuat Pricilia menegang.
“Maksud
lo?” Tanyanya perlahan.
“Seperti
yang gue bilang tadi, yang hadir ada dua puluh lima orang. Dan alumni kita ada
dua puluh delapan. Dan berarti delapan diantaranya, kemungkinan yang melakukan
kegilaan ini.” Alis Pricilia meninggi.
“Lo
gila ya? Mana ada anak umur enam belas tahun yang bakal ngelakuin hal gila kaya
gitu!” tanya Pricilia geram.
“Lo
gak pernah kenal orang psychopath ya?” Tanya Angel menahan amarah. Sesaat
Pricilia memucat dan sedikit menyembunyikan ketakutannya Pricilia menatap Angel
dengan tajam.
“Lo
fikir diSD kita ada orang kayak gitu?” Tanyanya geram.
“Gue
gak tau, karena itu baru perkiraan gue. Lo masih mau denger analisa gue atau
gak?” Tanya Angel masih menahan emosinya.
“Ada
delapan tersangka. Pertama Fitri Avira Pramudita. Cewek yang gue inget pendiem,
tapi sering jadi kecengan anak-anak, karena matanya agak sedikit jereng. Kedua
Anita ardhian. Dia yang paling pendiem dikelas. Dan yang terakhir. Venus
permata anggun. Dia di ejek karena namanya yang cewek banget, padahal dia
cowok. Gue sih gak terlalu inget dia diapain aja, tapi kelakuannya yang gak
bisa ditebak bikin orang nyangka dia psikopat.” Keterangan Angel membuat
Pricilia terdiam tak lagi berkutik.
“Tapi
kenapa Gladis jadi sasaran?” Tanya Pricilia.
“Dia
ada diruangan Alumni kita. Jadi, kalo lo gak mau ada korban. Jangan bawa orang
lain setiap kali alumni kita ngumpul.” Jawab Angel.
“Terus,
kita harus gimana? Apa kita harus datengin mereka satu-satu?” Tanya Pricilia.
Wajahnya yang pucat sudah lagi tak bisa disembunyikan. Ia hanya bisa menghela
nafas dan menenangkan dirinya.
Pricilia hanya terdiam dengan
analisis yang dibuat Angel. Ketakutan menjalar keseluruh tubuhnya, matanya
melirik seluruh ruangan dengan waspada. Kengerian yang bisa saja terjadi
padanya kapan saja.
“Terus,
kita harus gimana?” Tanya Pricilia. Angel kembali menatap kertas itu dan
menghadapkannya pada Pricilia.
“Untuk
sementara kita gak bisa apa-apa, karena kita belum bisa nebak permainannya.”
Jawab Angel.
“Tapi
kita harus kasih tau anak-anak untuk waspada.” Lanjutnya dengan tegas. Seakan
permusuhan mereka hilang begitu saja dan lenyap. Yang ada kewaspadaan dan
ketakutan dari wajah kedua gadis itu.
€€€
Angel dan Pricilia mencoba mengontak
beberapa teman SD yang masih sering mereka hubungi. Yang masih mereka hubungi
yang sudah pasti adalah Bianca, cantika dan di tambah Mitha dan Vanda yang udah ada
dirumah sakit. Diana yang satu sekolah dengan mereka. Di tambah Roby, Candra,
Rio, Tio dan Randika. Masih banyak sih yang mereka kenal.
Mereka ada sepuluh anggota Luxurious
yang mencar. Luxurious sudah ada dari saat mereka lulus SD, mereka sepakat
menamai gank mereka sebelum mereka terpencar keberbagai sekolah. Setiap hari
weekend mereka selalu berkumpul dan mendekati ujian mereka pun berkumpul untuk
belajar bersama.
Namun Angel dan Diana yang terus
bersama Pricilia semakin lama muak dengan sikap Pricilia yang sombong dan
angkuh. Merasa dirinyalah yang diatas awang dan yang lain hanyalah kosetan
kaki. Mereka pun hengkang dari gank itu, namun tetap berkomunikasi dengan
anggota Luxurious lainnya.
“Hahahaha….
Lucu lo! Sumpah, ini tuh joke yang paling garing tau!” tawa candra dengan puas.
“Ngel,
Pric, gue tau lo berdua tuh pengen bikin sensasi. Dan memberitahu ke kita kalo
kalian udah baikan. Tapi, jangan kaya gini juga dong.” Lanjut Candra. Dengan
cepat ia dihujani tatapan tajam.
“Ok…
ok… sorry, tapi sumpah! Perkataan lo itu nggak dimasuk diakal. Di SD kita ada
orang psikopat yang pengen bunuh kita? Ckck, lo tuh bener-bener bikin gue
ngakak tau!” Lanjut Candra masih tak percaya.
“Can,
coba lo liat dong. Apa kejadian Vanda dan Gladis nggak cukup jadi bukti? Kita
tuh dalam masalah besar.” Ucap Pricilia mencoba meyakinkan.
“Vanda
cuman kecelakaan cantik, lo taukan kalo
kabel remnya putus abis dibawa kebengkel. Dan keluarganya Vanda pun udah nuntut
tuh bengkel.” Jawab Candra dengan gaya yang menyebalkan.
Selama Angel, Pricilia dan Candra
berdebat. Anggota luxurious lainnya hanya terdiam tak berkutik. Malas terus
berdebat dengan orang keras kepala macam Candra, Angel memalingkan wajahnya ke
anggota luxurious yang lain.
“Siapa
yang percaya sama gue?” Tanya Angel. Beberapa tatapan terlihat tidak yakin.
“Gue
bukannya nggak percaya Ngel. Cuman, yang dibilang Candra ada benernya juga.”
Jawab Diana, teman yang hengkang dari luxurious bersamanya.
“Terus
kejadian Gladis? Kalian lupa? Dia jelas-jelas diserang!” bentak Pricilia geram.
Mereka hanya memikirkan kecelakaan Vanda, tapi tidak ingat tusukan kaca pada
teman barunya itu. Yang sudah pasti awal dari terror!
Sesaat semua terdiam, Candra yang
tak mau kehilangan muka. Segera kembali mencari alasan agar semua
mempercayainya.
“Bisa
aja itu dia yang nusuk sendiri buat bikin sensasi.” Balas Candra. Pricilia
menatap tajam cowok itu dengan geram.
“Gladis
bukan cewek gila macem gitu! Lo jangan ngarang deh Can. Kalo lo gak setuju sama
pendapat gue ok! Tapi jangan ngarang!” balas Pricillia geram.
“Ok…
ok… percumah kita tarik urat sekarang.” Roby bangkit dan berdiri diantara
Pricilia dan Candra yang sedang tarik urat.
“Kita
blum bisa mastiin ini beneran terror atau kerjaan orang psikopat. Tapi yang
pasti kita bakal cari tahu dulu. dan untuk sementara waktu, kita semua harus
tetep waspada. Dan kalo bisa, jangan ada yang mencar dan terus saling kontek.”
Ucapan Roby dapat membungkam semua orang.
Candra terlihat kesal karena
pendapatnya tak dapat respon apa-apa. Dan malah terlihat dicemoohkan. Tatapan
matanya seakan mengisyaratkan sebuah rencana. Rapat pun bubar. Pricilia pergi
kerumah sakit untuk menjenguk Gladis yang baru siuman. Ia bersyukur tak ada
luka parah ditubuh teman barunya itu.
Suara ponsel membuat Pricilia
bangkit untuk mengambil ponselnya. Nama Roby tertera dilayar ponselnya. Dengan
perlahan Pricilia mengangkat telepon itu dan ia mendengar nada cemas dari Roby.
“Candra
diserang dirumahnya!” teriak Roby panik.
“Maksud
lo?” Tanya Pricilia sedikit tidak yakin.
“Tadi
dia telepon gue, dia bilang ada cowok berbadan gede dan make topeng nyerang
dia.” jelas Roby. Pricilia pun bangkit dan berjalan keluar. Ia tak ingin
membuat Gladis terganggu.
“Terus
sekarang dia gimana?” tanya Pricilia panik.
“Gue
mau kesana. Lo mau gue jemput?” Tanya Roby.
“Iya,”
jawab Pricilia dengan wajah yang masih terlihat panik.
Pricilia menunggu di loby depan
rumah sakit. setelah dilihatnya mobil Roby tanpa menunggu mobil berhenti,
Pricilia segera masuk dan mobil kembali melaju cepat. Rumah Candra terlihat
gelap. Bagaikan tak berpenghuni. Pricilia dan Roby berjalan perlahan memasuki
rumah yang tak terkunci rapat itu.
“Can,
lo dimana?” teriak Roby perlahan. Namun tak ada jawaban. Mereka masih terus
menelusuri rumah yang lumayan besar, namun sepi itu. langkah mereka masih terus
menelusuri anak-anak tangga yang menuju kamar Candra. Saat didepan kamar Candra
Roby mengetuk kamar itu, tak ada jawaban. Mereka memilih untuk membuka pintu
tanpa sepersetujuan pemilik kamar.
Pricilia mencengkram tangan Roby
erat-erat, mereka tercekat di depan pintu dan tak bergerak. Candra sudah
tertidur di kasurnya, tubuhnya berlumuran darah dan dilantai pun banyak bercak
darah. Roby melepaskan tangan Pricilia yang bergetar dibelakangnya. Roby
memegang tubuh Candra dan berbalik kearah Pricilia dengan gemetar.
“Dia
tewas.” Suara Roby yang bagaikan hembusan itu, membuat Pricilia mundur dan
wajahnya kembali memucat. Untuk ketiga kalinya ia melihat korban. Airmatanya
kembali jatuh, ia tundukkan wajahnya. Roby segera menangkapnya sebelum tubuh
Pricilia terjetuh membentur lantai.
Polisi datang setelah Roby
menghubunginya, Pricilia pingsan dan ditaruh disofa rumah Candra. Roby masih
ingin tahu keadaan Candra sebenarnya. Namun ada yang aneh, darah yang ada
ditubuh Candra bukanlah darah. Melainkan darah mainan, namun kenapa ia bisa
meninggal? Roby hanya bisa melihat bantal yang terlempar di bawah. Dan setelah
itu, pak polisi segera menyuruhnya pergi agar memudahkan penyelidikan.
€€€
BERSAMBUNG