Senin, 09 Juli 2012

luxurious part2


Teriakan histeris Pricilia membuat para pembantunya berlarian kekamarnya. Pricilia sudah meringkuk dipojokan dan melipat lututnya. Dua pembantunya membantunya bangkit dan merebahkannya di kasur empuknya. Tubuh gemetar dan pucat membuat Pricilia yang sering terlihat menyebalkan. Berubah menjadi penurut dan pendiam. Seorang pelayan kembali datang dan membawakannya air putih. 

            Setelah merasa tenang, dengan ditemani satu pembantunya yang berdiri didepan pintu Pricilia kembali kekamar mandi. Namun niatnya untuk berendam hilang. Ia tak berniat berlama-lama dikamar mandi setelah melihat coretan sialan di kaca besar tadi. Pricilia hanya menyiram tubuhnya dan menghilangkan rasa letih. Setelah kembali memakai kimono. Dengan bantuan pelayannya tadi Pricilia memakai baju. Setelah kepalanya terasa tenang. Ia kembali mengambil ponsel dan menghubungin kedua sahabatnya. Si pelayan masih tetap disampingnya, Pricilia sama sekali tak mengizinkan pelayan itu jauh-jauh darinya. Karena kejadian tadi.

            Bianca mengangkat telepon, gadis itu baru pulang setelah mendapatkan telepon dari Stiven pacar Vanda. Katanya semalam sebelum kecelakan itu, ada orang asing yang menelepon. Dan karena takut Vanda menelepon Stiven karena gemetar tubuhnya tidak bisa hilang.
“Terus Vanda bilang nggak orang itu ngomong apa?” Tanya Pricilia penasaran.
“Hmm… apa ya? Kalo gak salah dia ngomong, kematian lo bakal datang… gitu deh yang dikasih tau si Stiven.” Jawaban Bianca membuat bul kudu Pricilia merinding. Dengan cepat ia menyuruh Bianca datang kerumahnya dan kembali berusaha menghubungi Cantika.
“Sorry, saat ini gue lagi sibuk. Jadi kalo ada perlu hubungin gue besok aja ya.” Suara itu berkali-kali terdengar. Pricilia benar-benar muak dan melempar handphonenya kekasur.

            Suara mobil Bianca berhenti didepan halaman luas dirumah Pricilia. Para pelayan yang sudah mengenal sahabat Pricilia ini, tak melarang saat Bianca langsung berlari kekamar Pricilia.
“Ada apa sih? Kok suara lo panik banget.” Tanya Bianca. Seorang pelayan yang menemani Pricilia, segera bangkit dan keluar.
“Tadi ada hal yang nyeremin banget!” jawab Pricilia, dengan wajah yang masih terlihat pucat.
“Tadi pas gue mau mandi, tau-tau di kamar mandi ada tulisan.’ SD CAHAYA MUSTIKA, selamat datang. Datang tulisannya itu pake darah!” cerita Pricilia menularkan rasa ngeri ke tubuh Bianca.
“Apa ini ada hubungannya sama kejadian Vanda?” Tanya Bianca. Pricilia pun mengangkat bahu yang terasa lemas.
“Mungkin. Gue takut banget ca. mana Cantika gak bisa dihubungin lagi.” Pricilia kembali menghubung Cantika dan masih sama. Nomornya tidak aktif.


Malam terlah larut Bianca memilih menginap dirumah Pricilia. Selain karena malas menyetir malam-malam. Cerita Pricilia membuatnya ngeri. Ia takut orang gila itu masih ada dibawah dan membunuhnya dijalan.
€€€

Pagi berganti, untuk menghilangkan kejadian mengerikan kemarin. Bianca dan Pricilia pergi ke butik langganan mereka bersama Cantika dan Gladis. Para karyawan yang sudah mengenali wajah-wajah itu segera mempersilahkan mereka masuk dan memilah-milih gaun. Gaun yang mereka incar saat ini berwarna merah. Namun karena taka da model yang sesuai untuk Pricilia, gadis itu memilih untuk membuat desain baru.
            Suara handphone di tas Gladis membuat semua mata tertuju padanya. Glad pun dengan wajah sedikit malu mengangkat telepon dan menjauh.
“Iya Rob. Aku? Lagi di butiknya Pricilia sama temen-temen. Katanya buat beli gaun untuk party reunian SD kalian katanya. Apa? kamu mau nyusul? Hmmm… gimana ya?” Gladis terlihat bingung.
“Dateng aja Rob.” Teriakan Pricilia membuat Gladis berbalik dan menatapnya. Dengan sedikit malu ia pun menyuruh Roby datang.

            Beberapa menit bersilang, Roby pun datang dengan Hyundai Grand Avega berhenti disamping Honda City Pricilia. Tubuh tinggi tegap itu tersenyum dan menyapa empat gadis dihadapannya. Namun saat berdiri disamping Gladis, senyumnya berubah menjadi senyum yang mempesona.
“Kamu udah pilih gaun?” Tanya Roby, Gladis pun menggeleng.
“Aku takut, akukan bukan alumni SD kalian.” Jawab Gladis.
“Au tuh Rob, dari tadi udah gue bilangin. Tetep aja dia gak mau ikut.” Perkataan Pricilia membuat mata Roby menatap lembut gadis itu.
“Ikut ya, sebagai pendamping aku.” Ajakkan Roby mau tak mau membuat wajah Gladis merona. Pricilia dan teman-teman pun hanya bisa tersenyum saat melihat tingkah kedua insan itu.

            Roby memang borjuis, namun ia nggak pernah pake uangnya untuk memangsa gadis. Ia hanya menggunakan uangnya untuk style dan kejenuhan dalam kehidupannya. Dan Pricilia pun sangat salut dengan prinsip Roby. Love isn’t money.

€€€

            Pesta reunian dimulai, Vi, Cantika dan Bianca sudah datang ke pesta. Sedangkan Gladis datang bersama Roby yang langsung menjemputnya dirumah Gladis. Aula di hotel indah itu di penuhi wajah-wajah yang masih terlihat akrab di mata Pricilia dan teman-teman. Setelah menemui Mitha mereka pun berbaur dengan yang lain.

            Benar yang diduga Roby, bukan hanya dirinya. Banyak yang bawa pasangan. Namun Roby cukup bangga menggandeng Gladis gadis manis yang sudah ia taksir dari pertama kali melihatnya bersama Pricilia cs.

            Pricilia merasa berbaur dengan teman-temannya, berbincang dengan Anthony yang baru kembali dari Paris. Mengingat masa yang menyenangkan bersama Dewi. Banyak teman yang membuat Pricilia kembali mengenang masalalu. Kenakalan, keusilan yang sering mereka lakukan.
“Iya, gue masih inget tuh! Tapi gue lupa siapa tuh cowok. Salah dia juga, udah kelas lima bawa bekel ke kelas.” Balas Pricilia dengan tawa yang terlepaskan.

            Hingga beberapa waktu terlewatkan, alumni SD Cahaya Mustika terkejut saat lampu di aula itu mati. Beberapa orang menjadi panik, terutama para cewek. Roby terpaksa melangkah ke pintu keluar dan meninggalkan Gladis yang sepertinya gemetar.  Suara pecahan kaca semakin membuat suasana semakin mecekam.
“AAAKKKKHHH…” teriakan Gladis yang menggelegar membuat Pricilia, Roby dan yang lain panik.
“Glad, lo kenapa? Glad… please jawab gue.” Teriak Pricilia yang membeku tak bisa bergerak. Ketakutannya akan kegelapan membuatnya terdiam. Tak ada jawaban sama sekali dari Gladis. Kepanikan menjalar kesemua penghuni aula itu.

            Lampu kembali nyala. Pricilia langsung berlari mencari Gladis yang sudah di kerumuni para penghuni aula, membuat Pricilia dan roby memaksa masuk. Pricilia hanya bisa menutup mulutnya dan airmatanya mengalir deras.

            Darah mengalir deras dari perut Gladis yang sudah di bopong Roby. Kengerian kembali mengalir di tubuh Pricilia. Ketakutan akan ancaman itu kembali menyeruak. Dan membuatnya menangis tak tertahan.
€€€

            Pricilia kembali lega karena tak ada yang fatal di tubuh Gladis yang masih tergolek lemah dirumah sakit. Ia kembali pulang kerumah untuk mengambil beberapa pakaian, namun wajah yang tak asing baginya, namun cukup membuatnya merasa gerah! Angelina. Datang kerumahnya dengan wajah serius.

“Gue cuman mau tanya gimana kronologis kecelekaan Vanda!” jawabnya dengan nada ketus yang ditahan.
“Emang perlu gue kasih tau ke lo?” jawab Pricilia tak kalah ketus. Angel, menghela nafas dan menghembuskannya dengan rasa kesal.
“Lo bener-bener gak pernah mikir ya?” cela Angel.
“Hei! Itu fitnah yang kejam. Kalo gue gak pernah mikir, gimana bisa gue ngalahin nilai-nilai lo.” Balasnya dengan geram.
“Ck! Gue emang ngomong sama orang yang salah!” Angel pun bangkit dengan geram dan melangkah pergi.

            Saat mengantar Angel keluar rumahnya. Dari kejauhan Vi kembali melihat cowok berbaju hitam sedang keluar dari rumahnya. Saat memasuki mobil Honda jazz miliknya, Angel kembali berbalik dan menatap Pricilia.
“Asal lo tau! Gue dateng kesini cuman untuk ngasih peringatan, nyawa kita, semua alumni SD Cahaya Mustika dalam bahaya! Tadinya gue fikir kita bisa bicara baik-baik. Ternyata… gak ada guna!” baru saja Angel akan masuk kedalam mobilnya, sadar akan ancaman itu. Pricilia pun menghentikan Angel dan kembali mengajaknya masuk kedalam.

            Walau rasa sebal pada mantan sahabatnya ini, Pricilia harus menghilangkannya sesaat. Karena ia tahu, hanya angellah sahabat yang paling enak diajak bicara serius.
“Lo masih nyimpen buku tahunan SD kita?” Tanyanya, Pricilia pun segera memanggil pembantunya untuk mengambil buku itu digudang.

            Saat buku tahunan sudah ada didepan mata Angel langsung membolak-balik buku itu dan menyalinnya disatu kertas. Pricilia hanya terdiam dan menatap Angel dengan kening mengkerut.
“Ok, lo lihat ini!” Pricilia mengambil kertas yang diberikan Angel dan membacanya. Nama-nama yang tak terlalu Pricilia kenal. Nama-nama yang nggak pernah ada diotaknya dan mungkin tak pernah diperdulikannya.
“Maksudnya apa nih?” tanya Pricilia bingung. Angel pun mengambil kertas itu dan menaruhnya diatas meja.
“Kemaren yang dateng cuman dua puluh lima orang. Sedangkan murid yang ada dibuku tahunan hampir tiga puluh orang.” Jawab Angel. Kembali ia membuka buku tahunan dan menatap Pricilia.
“Apa lo nggak fikir kalo yang ngerjain ini semua anak alumni kita juga?” Pertanyaan Angel membuat Pricilia menegang.
“Maksud lo?” Tanyanya perlahan.
“Seperti yang gue bilang tadi, yang hadir ada dua puluh lima orang. Dan alumni kita ada dua puluh delapan. Dan berarti delapan diantaranya, kemungkinan yang melakukan kegilaan ini.” Alis Pricilia meninggi.
“Lo gila ya? Mana ada anak umur enam belas tahun yang bakal ngelakuin hal gila kaya gitu!” tanya Pricilia geram.
“Lo gak pernah kenal orang psychopath ya?” Tanya Angel menahan amarah. Sesaat Pricilia memucat dan sedikit menyembunyikan ketakutannya Pricilia menatap Angel dengan tajam.
“Lo fikir diSD kita ada orang kayak gitu?” Tanyanya geram.
“Gue gak tau, karena itu baru perkiraan gue. Lo masih mau denger analisa gue atau gak?” Tanya Angel masih menahan emosinya.
“Ada delapan tersangka. Pertama Fitri Avira Pramudita. Cewek yang gue inget pendiem, tapi sering jadi kecengan anak-anak, karena matanya agak sedikit jereng. Kedua Anita ardhian. Dia yang paling pendiem dikelas. Dan yang terakhir. Venus permata anggun. Dia di ejek karena namanya yang cewek banget, padahal dia cowok. Gue sih gak terlalu inget dia diapain aja, tapi kelakuannya yang gak bisa ditebak bikin orang nyangka dia psikopat.” Keterangan Angel membuat Pricilia terdiam tak lagi berkutik.
“Tapi kenapa Gladis jadi sasaran?” Tanya Pricilia.
“Dia ada diruangan Alumni kita. Jadi, kalo lo gak mau ada korban. Jangan bawa orang lain setiap kali alumni kita ngumpul.” Jawab Angel.
“Terus, kita harus gimana? Apa kita harus datengin mereka satu-satu?” Tanya Pricilia. Wajahnya yang pucat sudah lagi tak bisa disembunyikan. Ia hanya bisa menghela nafas dan menenangkan dirinya.

            Pricilia hanya terdiam dengan analisis yang dibuat Angel. Ketakutan menjalar keseluruh tubuhnya, matanya melirik seluruh ruangan dengan waspada. Kengerian yang bisa saja terjadi padanya kapan saja.
“Terus, kita harus gimana?” Tanya Pricilia. Angel kembali menatap kertas itu dan menghadapkannya pada Pricilia.
“Untuk sementara kita gak bisa apa-apa, karena kita belum bisa nebak permainannya.” Jawab Angel.
“Tapi kita harus kasih tau anak-anak untuk waspada.” Lanjutnya dengan tegas. Seakan permusuhan mereka hilang begitu saja dan lenyap. Yang ada kewaspadaan dan ketakutan dari wajah kedua gadis itu.
€€€

           
            Angel dan Pricilia mencoba mengontak beberapa teman SD yang masih sering mereka hubungi. Yang masih mereka hubungi yang sudah pasti adalah Bianca, cantika dan   di tambah Mitha dan Vanda yang udah ada dirumah sakit. Diana yang satu sekolah dengan mereka. Di tambah Roby, Candra, Rio, Tio dan Randika. Masih banyak sih yang mereka kenal.

            Mereka ada sepuluh anggota Luxurious yang mencar. Luxurious sudah ada dari saat mereka lulus SD, mereka sepakat menamai gank mereka sebelum mereka terpencar keberbagai sekolah. Setiap hari weekend mereka selalu berkumpul dan mendekati ujian mereka pun berkumpul untuk belajar bersama.

            Namun Angel dan Diana yang terus bersama Pricilia semakin lama muak dengan sikap Pricilia yang sombong dan angkuh. Merasa dirinyalah yang diatas awang dan yang lain hanyalah kosetan kaki. Mereka pun hengkang dari gank itu, namun tetap berkomunikasi dengan anggota Luxurious lainnya.


“Hahahaha…. Lucu lo! Sumpah, ini tuh joke yang paling garing tau!” tawa candra dengan puas.
“Ngel, Pric, gue tau lo berdua tuh pengen bikin sensasi. Dan memberitahu ke kita kalo kalian udah baikan. Tapi, jangan kaya gini juga dong.” Lanjut Candra. Dengan cepat ia dihujani tatapan tajam.
“Ok… ok… sorry, tapi sumpah! Perkataan lo itu nggak dimasuk diakal. Di SD kita ada orang psikopat yang pengen bunuh kita? Ckck, lo tuh bener-bener bikin gue ngakak tau!” Lanjut Candra masih tak percaya.
“Can, coba lo liat dong. Apa kejadian Vanda dan Gladis nggak cukup jadi bukti? Kita tuh dalam masalah besar.” Ucap Pricilia mencoba meyakinkan.
“Vanda cuman kecelakaan cantik, lo taukan  kalo kabel remnya putus abis dibawa kebengkel. Dan keluarganya Vanda pun udah nuntut tuh bengkel.” Jawab Candra dengan gaya yang menyebalkan.

            Selama Angel, Pricilia dan Candra berdebat. Anggota luxurious lainnya hanya terdiam tak berkutik. Malas terus berdebat dengan orang keras kepala macam Candra, Angel memalingkan wajahnya ke anggota luxurious yang lain.
“Siapa yang percaya sama gue?” Tanya Angel. Beberapa tatapan terlihat tidak yakin.
“Gue bukannya nggak percaya Ngel. Cuman, yang dibilang Candra ada benernya juga.” Jawab Diana, teman yang hengkang dari luxurious bersamanya.
“Terus kejadian Gladis? Kalian lupa? Dia jelas-jelas diserang!” bentak Pricilia geram. Mereka hanya memikirkan kecelakaan Vanda, tapi tidak ingat tusukan kaca pada teman barunya itu. Yang sudah pasti awal dari terror!

            Sesaat semua terdiam, Candra yang tak mau kehilangan muka. Segera kembali mencari alasan agar semua mempercayainya.
“Bisa aja itu dia yang nusuk sendiri buat bikin sensasi.” Balas Candra. Pricilia menatap tajam cowok itu dengan geram.
“Gladis bukan cewek gila macem gitu! Lo jangan ngarang deh Can. Kalo lo gak setuju sama pendapat gue ok! Tapi jangan ngarang!” balas Pricillia geram.
“Ok… ok… percumah kita tarik urat sekarang.” Roby bangkit dan berdiri diantara Pricilia dan Candra yang sedang tarik urat.
“Kita blum bisa mastiin ini beneran terror atau kerjaan orang psikopat. Tapi yang pasti kita bakal cari tahu dulu. dan untuk sementara waktu, kita semua harus tetep waspada. Dan kalo bisa, jangan ada yang mencar dan terus saling kontek.” Ucapan Roby dapat membungkam semua orang.


            Candra terlihat kesal karena pendapatnya tak dapat respon apa-apa. Dan malah terlihat dicemoohkan. Tatapan matanya seakan mengisyaratkan sebuah rencana. Rapat pun bubar. Pricilia pergi kerumah sakit untuk menjenguk Gladis yang baru siuman. Ia bersyukur tak ada luka parah ditubuh teman barunya itu.


            Suara ponsel membuat Pricilia bangkit untuk mengambil ponselnya. Nama Roby tertera dilayar ponselnya. Dengan perlahan Pricilia mengangkat telepon itu dan ia mendengar nada cemas dari Roby.
“Candra diserang dirumahnya!” teriak Roby panik.
“Maksud lo?” Tanya Pricilia sedikit tidak yakin.
“Tadi dia telepon gue, dia bilang ada cowok berbadan gede dan make topeng nyerang dia.” jelas Roby. Pricilia pun bangkit dan berjalan keluar. Ia tak ingin membuat Gladis terganggu.
“Terus sekarang dia gimana?” tanya Pricilia panik.
“Gue mau kesana. Lo mau gue jemput?” Tanya Roby.
“Iya,” jawab Pricilia dengan wajah yang masih terlihat panik.

            Pricilia menunggu di loby depan rumah sakit. setelah dilihatnya mobil Roby tanpa menunggu mobil berhenti, Pricilia segera masuk dan mobil kembali melaju cepat. Rumah Candra terlihat gelap. Bagaikan tak berpenghuni. Pricilia dan Roby berjalan perlahan memasuki rumah yang tak terkunci rapat itu.
“Can, lo dimana?” teriak Roby perlahan. Namun tak ada jawaban. Mereka masih terus menelusuri rumah yang lumayan besar, namun sepi itu. langkah mereka masih terus menelusuri anak-anak tangga yang menuju kamar Candra. Saat didepan kamar Candra Roby mengetuk kamar itu, tak ada jawaban. Mereka memilih untuk membuka pintu tanpa sepersetujuan pemilik kamar.


            Pricilia mencengkram tangan Roby erat-erat, mereka tercekat di depan pintu dan tak bergerak. Candra sudah tertidur di kasurnya, tubuhnya berlumuran darah dan dilantai pun banyak bercak darah. Roby melepaskan tangan Pricilia yang bergetar dibelakangnya. Roby memegang tubuh Candra dan berbalik kearah Pricilia dengan gemetar.
“Dia tewas.” Suara Roby yang bagaikan hembusan itu, membuat Pricilia mundur dan wajahnya kembali memucat. Untuk ketiga kalinya ia melihat korban. Airmatanya kembali jatuh, ia tundukkan wajahnya. Roby segera menangkapnya sebelum tubuh Pricilia terjetuh membentur lantai.

            Polisi datang setelah Roby menghubunginya, Pricilia pingsan dan ditaruh disofa rumah Candra. Roby masih ingin tahu keadaan Candra sebenarnya. Namun ada yang aneh, darah yang ada ditubuh Candra bukanlah darah. Melainkan darah mainan, namun kenapa ia bisa meninggal? Roby hanya bisa melihat bantal yang terlempar di bawah. Dan setelah itu, pak polisi segera menyuruhnya pergi agar memudahkan penyelidikan.
€€€
BERSAMBUNG