Gadis
itu melangkah melewati beberapa murid yang baru pertama kali ia lihat. Dari
balik wali kelas barunya itu, gadis yang berwajah polos menunduk tak berani
menatap semua orang. Wajah campuran indo belanda itu terlihat lugu. Rambut ikal
panjang dan lebat, dengan sepasang tulang pipi yang ramping dan mata yang belo
namun terlihat indah.
Kelas
sebelas X mendadak hening saat bu Yuli wali kelas mereka berjalan masuk dengan
sigap bersama seorang murid baru yang pastinya bakal menjadi incaran semua
siswa SMA bhima sakti.
“Pagi
anak-anak. Hari ini kalian mendapatkan teman baru. Namanya Auladia Gladis
Victoria. Ia sering di panggil Gladis. Dia pindah dari London dan pindah kesini
karena orangtuanya yang di pindah tugaskan kemari.” Gadis yang disebut Gladis
itu masih terdiam, dengan malu-malu ia tebarkan senyum termanis yang ia miliki
dan membuat seluruh kelas menjadi ricuh.
“Sudah-sudah
jangan ribut! Gladis, sebaiknya kamu cari tempat duduk. Agar pak Rusman bisa
segera mengajar kalian.” Gladis pun mengedarkan pandangan. Ia sedikit bingung
dimana ia harus duduk. Karena semua bangku kosong langsung di tunjukkan
padanya. bu Yuli membantu dengan sangat bijak.
“Pricilia,
ibu rasa kamu duduk sendiri. Apa kamu tidak keberatan Gladis duduk disebelahmu?”
Tanya Bu Yuli. Pricilia pun mengangguk dan tersenyum. Gladis dengan malu-malu
melangkah ke bangku barunya. Ia kembali tebarkan senyum manis dan dibalas
Pricilia.
Pricilia Anindya Kasandra. Gadis
popular di sekolah. Cantik, pintar dan selalu jadi incaran cowok-cowok. Bersama
Bianca dan Cantika. Tiga gadis high class. Yang bisa dekat dengan mereka pun
anak-anak high class pula! Dan karena kehadiran Gladis langsung menjadi sorotan
anak-anak, jelas gadis ini dapat diperhitungkan menjadi anggota ganknya yang
bernama luxurious.
Selama
jam pelajaran mereka tak bisa banyak berbincang-bincang. Karena pak Rusman
sudah datang dan membahas pelajaran bahasa Indonesia. Pricilia, Bianca dan
Cantika yang sudah tercatat sebagai siswi teladan dan berprestasi, tentu saja
tidak ingin menghancurkan imagenya itu hanya karena anak baru itu.
Usai pelajaran luxurious pun segera
mengajak Gladis ke kantin. Bangku kebanggaan pun sudah tersedia untuk mereka
bertiga. Namun belum ada untuk Gladis, dengan cepat Pricilia menyuruh salah
satu adik kelasnya menyingkir dan mengambil bangku itu untuk Gladis.
“Gak
apa-apa nih? Kalo nanti ada yang gak suka sama aku gimana?” Tanya Gladis
sedikit khawatir. Pricilia pun mengibaskan tangannya dengan anggun.
“Tenang
aja, anak-anak udah pada tau kita-kita kok. Kalau mereka mau macem-macem mereka
harus berurusan sama gue dulu!” jawabnya dengan berani. Gladis pun hanya
mengangguk lugu.
Bianca
segera memberikan isyarat siapa yang datang. Daniel. Cowok idola disekolah,
selevel berat dengan Pricilia ketua OSIS. Pricilia pun menjadi bangga saat
menyandang menjadi waketu OSIS. Karena
bagi Pricilia, cowok keren itu haruslah lebih dari dia. lebih smart, lebih
tajir dan pastinya ketampanannya tak ada yang menandinginya. Dan semua terletak
pada Daniel Baskara.
Pricilia segera membenahi baju yang
tak terlihat kusut dan merapihkan rambutnya yang tak terlihat berantakan.
Senyuman manis yang jarang ia tunjukan pada orang-orang, kini terlihat mengedar
saat Daniel melewatinya
“Hai
Dan…” sapanya manis. Daniel pun segera menoleh dan menatap waketunya.
“Hai
pric.” Balasnya singkat.
“Nanti
jadi rapatkan?” Tanya Pricilia. Daniel pun mengingat-ingat dan dengan cepat ia
memukul keningnya sendiri.
“Aduh,
gue lupa Pric. Nanti sore gue ada latihan karate sama les fisika. Jadi kayanya
gak bisa deh.” Jawab Daniel.
“Jadi
batal?” Tanya Pricilia sedikit kecewa. Namun di sembunyikannya dalam-dalam.
“Sorry
ya.” Pinta Daniel serasa menempelkan kedua telapak tangannya didada.
“Ok
deh!” jawab Pricilia. Daniel pun tersenyum lembut.
€€€
Pukul setengah empat sore. SMA Bhima
sakti terlihat ramai dengan murid-murid yang pulang menggunakan kendaraan
pribadi. Pricilia yang biasa bepergian setelah pulang sekolah. Mengajak teman
barunya, Gladis untuk pergi bersamanya. Namun sepertinya gadis itu terlihat
tidak senang. Karena ia baru tinggal di Jakarta dan tak mengenal daerah ini
terlalu banyak.
“Udah
lo santai aja deh. Gue anter lo sampe depan pintu gerbang lo deh!” Paksa
Pricilia. Gladis pun berfikir sejenak.
“Terus
supir aku gimana?” Tanyanya dengan nada lembut.
“Udah
lo telepon aja dia, bilang suruh balik lo mau jalan sama gue.” Jawab Pricilia.
Gladis pun mengikuti sarannya. Namun ia tak menelepon ke supirnya melainkan ke
nomor ibunya.
“Yes
mom, temen baruku mengajakku jalan. Boleh? Thanks mom.” Terdengar nada riang
dari gadis polos itu. bersama teman-teman barunya, Gladis berjalan ke Honda
city milik Pricilia.
Dari satu kios ke kios lain. mereka
masuki semua satu persatu kios di mall Jakarta. Tak ada satupun yang
terlewatkan. Berbagai macam model baju, aksesoris, bahkan barang pribadi cewek
tak ada yang luput dari mata ke empat gadis itu. Pricilia cs pun cukup kagum
dengan style Gladis yang cukup keren. Semua yang ia pegang bukanlah barang
biasa. Terlihat indah, menarik dan nggak kampungan.
Saking asiknya memutari kios-kios
itu Pricilia cs lupa ia belum makan siang. Kini mereka langkahkan kaki mereka
ke restorant yang cukup high class dan memesan menu makan siang yang tak akan
membuat berat badan mereka menjadi membengkak.
“Pric.”
Tegur seorang. Cowok itu terlihat tinggi, kurus namun tak terlalu kurus.
Penampilannya cukup keren untuk ukuran anak SMA.
“Robby!”
teriak Pricila terkejut dengan cowok yang kini dihadapannya.
“Hi
Bi, hi can. Kalian gak berubah ya. Tetep cantik dan mempersona.” Puji Roby.
Kini tatapannya tertuju pada satu gadis yang bukan dari sekolah yang sama
dengannya. Roby pun memberikan isyarat pada Pricilia untuk menjelaskan siapa
gadis baru itu.
“Namannya
Gladis. Dia murid baru disekolah gue.” Jawab Pricilia. Dengan malu-malu Gladis
menjabat tangan Roby yang terlihat tertarik dengannya.
“Lo
masuk mana Rob? Kok gak pernah keliatan lagi pas masuk SMA. Jadi menghilang
dari peredaran gitu.” Roby pun tanpa menunggu persetujuan keempat gadis itu.
Duduk di bangku yang terlihat kosong di samping Gladis yang duduk di bangku
sofa yang cukup untuk tiga orang itu.
“Gue
masuk SMA Universal Internasional. Ya, lo taukan taraf sekolahan itu. Jadi gue
gak punya banyak waktu untuk hangout. Ini aja gue maksain karena udah
bener-bener sumpek.” Jelas Roby. Kedatangan seorang witers membuat pembicaraan
mereka sedikit terganggu. Setelah memesan tatapan Pricilia tertuju pada cowok
itu lagi.
“Jadi
lo masuk SMA beken itu! ckckck… gue sih tadinya disaranin masuk situ sama
bokap. Tapi, gue pengen ngambil dari nilai aja. Jadi deh gue masuk SMA bhima
sakti.” Jawab Pricilia.
“Sekolah
itu juga gak jelek-jelek amat. Kalian juga masuk situ? Angel sama Diana?”
pertanyaan terakhir Roby membuat raut wajah girang Pricilia hilang. Dengan
malas ia menatap cowok itu.
“Nggak
usah ngomongin si penghianat itu didepan gue!” bentak Pricilia tertahan. Rpby
yang merasa ada yang tidak beres memilih bungkam.
“Oh
ya, kata Mitha. Dia mau bikin reunian loh.” Alih Roby. Pricilia, Bianca dan
Cantika pun terlihat berbinar.
“Serius
lo?” sela Cantika. Roby pun mengalihkan tatapannya pada cewek kurus namun cukup
cantik itu.
“Iya.
Katanya dia lagi siapin tempat sama undangannya. Nanti dia bakal send
undangannya kerumah anak-anak langsung.” Pricilia pun mengangguk girang.
“Pake
tema gak?” Tanya Bianca. Cewek modis ini selalu ingin mempersiapkan segala
sesuatunya dari jauh-jauh hari.
“Hmm…
gue gak tau deh. Soalnya gue gak nanya sampe kesana.” Jawab Roby enteng.
“Lo
ikut ya.” Pinta Roby pada gadis yang sedari tadi diam disampingnya.
“Ah,
akukan bukan alumni SD kalian.” Jawab Gladis.
“Nggak
masalah kok.” Jawab Roby seraya menatap mata belo nan indah itu.” Nanti kamu
bareng sama aku aja biar gak risih.” Roby mengganti kata yang lebih halus saat
melihat kepolosan dari setiap ucapan gadis ini.
“Hmmm…
gimana ya?” Tanya Gladis bingung. Pricilia pun ikut bicara.
“Udah,
nggak apa-apa. siapa sih yang mau nentang temen-temen gue! Udah lo ikut aja.
Lagi juga Roby janji mau ngejaga lo kok.” Perkataan Pricilia pun membuat Gladis
sedikit bimbang.
“Yaudah,
liat nanti aja ya. Toh undangannya juga belum disebar.” Jawab Gladis dengan
senyum yang membuat Roby betah menatap gadis itu berlama-lama.
€€€
Pricilia merasa sial! Ntah kenapa
mobil Honda city yang masih baru dan belum lama dibawa kebengkel itu mendadak
mogok di jalan. Dengan geram ia memaki mobil sialan itu dan menunggu taksi.
Tanpa disadarinya sebuah mobil melaju tanpa kendali. Hingga saat berjarak
sepulu meter dihadapannya. Pricilia yang masih sempat menyingir, tak bisa
menghindar saat sebelah tangannya terserempet mobil baleno itu. Dan didepannya mobil baleno itu menghantam
tiang dan mobil cantik itu hancur tanpa ampun.
Pricilia yang berniat ingin memaki
pemilik mobil itu, mendadak simpatik. Dengan sebelah tangan yang masih tersisa
ia mencoba membuka mobil itu. Namun percuma! Dengan kedua tangannya saja ia
tidak mungkin bisa membuka paksa mobil itu. Apalagi dengan satu tangan!
Beberapa saksi mata pun segera
mendobrak mobil itu hingga mobil itu terbuka. Tubuh gadis itu terlihat mengenaskan dan wajahnya yang
sudah berlumuran darah. Namun samar-samar Pricilia mengenali wajah gadis itu. Vanda
Salah satu teman SDnya!
“Pak
dia temen saya pak! Tolong panggilkan ambulans pak!” Teriak Pricilia panik.
Vanda, gadis polos yang bersekolah di SMA yang tak jauh dari tempat
Pricilia. Mereka sering berpapasan dan
janjian pergi bareng. Namun tak disangka kini ia melihat gadis itu dalam
keadaan yang mengenaskan.
Airmata di wajah Pricilia tak
tertahankan. Ketakutan dan rasa sakit di bahunya membuat airmatanya dengan
mudah mengalir. Bianca, Cantika dan Gladis menyusul kerumah sakit. Pricilia
yang tak mengalami luka parah hanya memakai gips di tangan. Namun saat ia
mengintip keadaan Vanda dari kaca luar. Gadis itu benar-benar parah. Wajahnya
telah hancur. Selang menghiasi sekeliling tubuh gadis itu.
“Gimana
kejadiannya sih?” Tanya Bianca perlahan. Sebelah tangannya memegang bahu gadis
yang masih terisak dan sebelahnya memegang tangannya yang masih terlihat
gemetar. Dengan terbata dan terisak tangis Pricilia menceritakan kronologis
kecelakaan itu. Dan hingga puncak ia menceritakan kronologis ceritanya.
Tubuhnya terjatuh di pelukan Bianca. Cantika dan Gladis membelai bahu dan
rambut Pricilia mencoba menenangkannya.
€€€
Pricilia sudah kembali kerumah. Ia
tak tahan berlama-lama dirumah sakit. keadaan Vanda membuatnya semakin takut.
Disaat Pricilia sedang terduduk di bangku panjang di balkon rumahnya. Seorang
pelayan datang memberikan satu surat undangan. Perlahan Pricilia membuka
undangan itu.
Reunion Party Cahaya Mustika Elementary School
Date : February 6, 2012
Place : Hall of Indah Hotel
Dresscode : formal style
ps. For ladies please wearing a red dress
Date : February 6, 2012
Place : Hall of Indah Hotel
Dresscode : formal style
ps. For ladies please wearing a red dress
“Kok
udah sampai sih? kata Roby baru rencana. Sureprise kali ya?” Pricilia pun bangkit dari kasurnya dan
mengambil ponselnya. Ia berniat untuk menghubungi kedua sahabatnya yang pernah
satu SD dengannya. Pricilia merasa aneh saat Bianca dan Cantika tak bisa
dihubungi. Apa kedua gadis itu masih ada dijalan? Karena dari rumah sakit lebih
dekat kerumahnya daripada kerumah kedua sahabatnya itu.
Tanpa berfikir lagi Pricilia bangkit
dan menuju kamarnya. Kejadian hari ini sangat melelahkan. Ia ingin berendam air
hangat. Setelah menyuruh salah satu pembantunya menyediakannya air hangat dan
membantunya melepaskan baju seragamnya yang terasa sesak. Pricilia pun segera
masuk ke kamar mandinya setelah menyalakan salah satu kaset instrument piano
Yimura.
Sambil menunggu air hangatnya penuh.
Pricilia yang terbalut kimono berdiri terdiam di balik pintu balkonnya.
Dilihatnya seorang lelaki berpakaian serba hitam keluar dari garasi rumahnya.
Mungkin itu satpam yang berjaga siang dan baru pulang.
Saat ia mendengar suara kucuran air,
Pricilia pun melangkah kekamar mandi. Saat ia ingin membuka kimononya. Pricilia
yang berbalik melihat cermin, langsung memucat. Sebuah tulisan dengan darah
melekat di kaca besar yang terletak di kamar mandinya dan bertuliskan
ALUMNI SD CAHAYA MUSTIKA selamat datang kembali!!!